BERBAGI

EkstraNews.com – Selamet Salimin (67) tengah beristirahat saat ditemui pada Rabu siang, 31/5/2017. Ia duduk di bangku semen dekat Lapangan Tanah Merah Enggal, Kota Bandar Lampung.

Ia terlihat lelah. Kulitnya yang hitam tak lagi kencang. Wajah ayah enam itu juga berkeriput.  Selamet baru saja menyusuri jalanan Kota Tapis Berseri menjajakan kincir angin. “Sebelum menjual kincir angin, saya tadinya berdagang buah-buahan di pasar,” kata Selamet.

Warga Kelurahan Penengahan yang tinggal di belakang RSUDAM Lampung itu menjual baling-baling dengan modal sang anak. Ia memutuskan berhenti berdagang karena tak punya lapak menetap. “Waktu berdagang buah, saya sering diusir lantaran tidak memiliki lapak,” ujarnya.

Setiap hari, Selamet berjalan kaki menjajakan kincir angin. Dari rumahnya, ia menawarkan baling-baling di Jalan Raden Intan, Jalan Kartini, dan Jalan Jenderal Sudirman. Ia menjual sebuah kincir angin sekitar Rp70 ribu. Keuntungan dari penjualan digunakannya untuk biaya sehari-hari dan membuat baling-baling.

“Sehari untung-untungan laku satu kincir angin. Susah laku karena jarang yang butuh (kincir angin). Tapi, sekali ada yang borong, uangnya bisa beli stok makanan di rumah,” kata Selamet dengan mata berkaca-kaca. (cr1)

 

Sumber : http://duajurai.co/2017/05/31/puasa-sang-duafa-kisah-selamet-penjaja-kincir-angin-yang-diusir-saat-berdagang/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here