BERBAGI

EkstraNews.com – Um Karam (40) amat menyayangkan nasibnya dahulu sebagai orang yang “terpenjara” hanya untuk memahami bahwa kebebasan itu amat mahal harganya. Sejak ISIS mengontrol sebagian besar wilayah Kota Mosul, Irak bagian utara, banyak larangan yang muncul dan membuat Um beserta warga lain tak bisa menjalankan ibadahnya dengan baik. Kondisi ini bahkan jadi lebih mengerikan di sepanjang bulan Ramadan, bulan paling suci bagi umat Islam.

Ironis, memang, bahwa di sebuah negara yang dikontrol oleh kelompok yang merasa paling islami di dunia, menjalankan perintah agama malah menjadi kemewahan. Um hampir tak bisa merasakan persamaan antara Ramadan tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bak tinggal di penjara, larangan otoritas bersenjata menyebar di segala lini.

“Aku tak bisa ke pasar sendirian, dan aku dipaksa untuk selalu memakai jilbab,” ungkapnya sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua.

Peraturan ditegakkan dengan tegas. Milisi bersenjata berkeliling kota tiap waktu dan akan menegur mereka yang melakukan pelanggaran ringan dan mengangkut mereka yang melakukan pelanggaran berat. Sang pelaku ditahan di penjara yang sesungguhnya dengan kondisi yang tak manusiawi. Kadang kabar mereka tak terdengar lagi oleh sanak keluarga.

Kekejaman ini dibenarkan Faris Karim, seorang pemilik toko di pasar Kota Mosul, yang berbicara kepada kanal Rudaw. Puasa, kata Faris, bukan lagi ibadah yang bersifat rahasia antara si pelaku dengan Allah SWT. ISIS tak segan-segan menghukum mereka yang ketahuan makan-minum di siang hari.

“Dihukum cambuk hingga 60 kali jika ada yang ketahuan melanggar. Itu jika Anda beruntung. Beberapa ada yang dipenjara dan hanya Tuhan yang tahu nasib mereka di sana,” imbuhnya.

Pemerintah Irak memang sangat mendorong umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa Ramadan, seperti umumnya pemerintah di negara berpenduduk mayoritas muslim lain. Konsekuensinya, warga Mosul dan kota lain diminta untuk tak makan-minum di ruang publik. Meski demikian, tak ada hukuman khusus bagi mereka yang melanggarnya. ISIS juga telah lama memberlakukan larangan ketat untuk alkohol, serta mengutuk tindakan lain yang ditafsirkan haram.

“Mereka yang tak puasa akan mendapat hukuman tak manusiawi. Terkadang mereka menaruh si pelanggar hukum di sebuah kandang di tengah publik dan meninggalkannya begitu saja tanpa makanan, air, sepanjang hari di bawah sinar matahari,” jelas Ahmed Tofiq, warga Kurdistan yang telah tinggal di Mosul selama lebih dari 30 tahun.

Tak ketinggalan, ISIS turut melarang segala permainan tradisional dan aktivitas tahunan lain. Masyarakat Mosul adalah pecinta domino dan permainan meja bernama backgammon. Ada pula permainan bernama mahib di mana peserta dibagi menjadi dua kelompok dan menyembunyikan cincin di tangan mereka dan tim lawan akan menebak tangan siapa yang memegang cincin. Usai bermain, mereka akan menikmati sajian manisan dan minuman ringan bersama-sama.

Pelarangan domino, bakgamon, dan mahib, menurut laporan RadioFreeEurope-RadioLiberty, adalah upaya ISIS mengenalkan cara bersenang-senang baru bagi warga Mosul. ISIS berpegang teguh dengan interpretasi radikal Islam Sunni. Warga Mosul dikabarkan kerap digiring untuk berpartisipasi dalam olahraga gulat dan balapan yang terorganisir rapi di kota tersebut.

Sebagaimana nasib Um, ISIS memberlakukan peraturan yang ketat kepada perempuan Mosul. Salah satunya adalah larangan untuk meninggalkan rumah masing-masing usai berbuka puasa. Secara umum, kemunculan perempuan di ruang publik pada siang hari mesti ditemani oleh suami atau saudaranya. Vice International pernah menurunkan laporan dokumenter bagaimana milisi ISIS berkeliling kota sepanjang hari demi tegaknya peraturan ini.

Meski mengaku beraliran Sunni, ISIS sesungguhnya melanggar banyak ketentuan yang diberlakukan komunitas muslim Sunni lain di Irak. Jelang Ramadan tahun 2015, misalnya, kelompok Sunni di kawasan Timur-Tengah dan yang satu waktu lainnya sepakat untuk memulai puasa pada tanggal 18 Juni. ISIS menentangnya dengan memulai puasa di wilayah kekuasaannya pada 19 Juni.

Anehnya lagi, ISIS melarang salat tarawih. Hampir semua ulama di berbagai negara amat mendukung pelaksanaan ibadah yang dinilai sebagai ajang panen pahala ini sebab hanya bisa dilakukan selama bulan ramadan. Namun ISIS, sebagaimana laporan DW, melarangnya dengan alasan bahwa tarawih itu bidah alias perbuatan yang tidak dicontohkan Nabi atau ditetapkan dalam Alquran maupun hadis. Dengan demikian, menurut sejumlah laporan, para pelaksana tarawih di Mosul dan wilayah kekuasaan ISIS lain akan mendapat hukuman yang keras.

Delapan orang ulama di Mosul pernah merasakan kerasnya ISIS dalam kebijakan pelarangan tarawih. Mereka melakukannya bersama sejumlah pengikut, namun ketahuan. Hukuman dilaksanakan pada 21 Juni 2015, demikian laporan Radio Free Iraq yang berpusat di Provinsi Nineveh.

“ISIS telah menghentikan kegiatan tarawih. Kebijakan ini mengindikasikan betapa sempitnya pemikiran kelompok ini. Interpretasi mereka atas Islam telah jatuh dari spektrumnya. Mereka terlalu arogan dan kelewat percaya diri dengan ideologi yang mereka bawa,” kata Carool Kersten, ahli Islam dan Timur Tengah dari Kings College London, Inggris.

Angin Segar untuk Mosul

Mosul adalah kota dengan penduduk berjumlah kurang lebih 1,8 juta orang pada 2004. Perang Irak membuat populasi penduduknya turun. Namun, yang terparah adalah akibat pendudukan ISIS sejak Juni 2014. Populasinya turun setengahnya atau pada 2015 hanya 664 ribu. Pemerintah Irak kewalahan menghadapi gerombolan yang dipimpin Abu Bakr al-Baghdadi itu, sehingga pada Oktober 2016 menyatakan Mosul sebagai daerah operasi militer.

Perlawanan militer Irak dipimpin oleh Perdana Menteri Haider al-Abadi dalam operasi “We Are Coming, Nineveh” (Qadimun Ya Naynawa). Di sisi seberang ISIS membawa 4,5 hingga 12 ribu tentara, sedangkan Militer Irak bergerak membawa 60 ribu pasukan ke medan laga.

Ada juga milisi Kurdistan yang bergabung membantu militer Irak yakni sebanyak 40 ribu, ditambah dari pasukan CJTF-OIR atau Combined Joint Task Force-Operation Inherent Resolve (Pasukan internasional yang dipimpin AS) sebanyak 450 orang. Sementara itu kekuatan tambahan datang dari militer Iran, Hizbullah, dan Loyalis Partai Ba’ath Irak yang totalnya kira-kira 14 ribu milisi.

Peperangan yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun itu telah menelan ribuan nyawa melayang dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Jumlah pengungsi dari kalangan sipil menurut sejumlah lembaga internasional juga telah mencapai lebih dari setengah juta.

Namun, di awal tahun 2017 ini, angin segar berhembus di Mosul. Tanda kekalahan ISIS semakin dekat, dan Mosul akan segera terbebas sepenuhnya. Pada Sabtu (27/5/2017) waktu setempat, pasukan Irak akhirnya akan melancarkan operasi untuk merebut kembali kantung terakhir yang dikuasai ISIS di Mosul, meliputi pusat Kota Tua, dan tiga daerah yang berdekatan di sepanjang tepi barat Sungai Tigris.

Menurut tentara Irak, lebih dari 90 persen kota telah direbut kembali dari ISIS selama serangan sejak Oktober tahun lalu. “Pasukan gabungan sudah mulai membebaskan distrik-distrik yang tersisa,” demikian pernyataan militer Irak.

Efek positif sudah terasa. Um, sebagaimana di awal menyatakan pernah menderita selama bulan Ramadan, bisa menikmati ibadahnya tahun ini. Um Karam gembira, tahun ini ia bisa merayakan Ramadan bersama keluarganya, berbeda dengan Ramadan sebelumnya saat masih di bawah penguasaan ISIS.

“Saya gembira bisa mengembalikan kehidupan, seperti sebelum Daesh [sebutan untuk ISIS], dan saya lebih gembira lagi jika pasukan keamanan membebaskan semua daerah yang tersisa di Mosul serta seluruh Irak dari kekuasaan kelompok pengacau,” kata Um, yang saat diwawancarai sedang berjalan sendirian dan tanpa hijab di salah satu pasar paling terkenal di Mosul.

Meski sebagian kota Mosul telah dibebaskan tentara Irak dari penguasaan ISIS sebelum Ramadan kemarin, pekerjaan rumah bagi pemerintah Irak masih menumpuk. Di antaranya adalah membebaskan Kota Tua sepenuhnya dan distrik sekitar yang masih dicengkeram ISIS.

Kondisi makin kritis sebab warga Mosul di daerah kekuasaan ISIS kini tak hanya menderita dalam berpuasa, tapi hampir segala aspek kehidupan secara umum. Warga yang putus asa terjebak di belakang garis ISIS sekarang menghadapi situasi yang mengerikan sebab hanya memiliki sedikit makanan dan air, tanpa listrik, dan akses terbatas ke rumah sakit.

Beberapa warga mengatakan bahwa millet, yang biasanya digunakan untuk makanan burung, dimasak seperti beras karena harga pangan naik sepuluh kali lipat. Orang-orang mengumpulkan tumbuhan mallow liar di lahan-lahan terlantar dan makan daun mulberry serta tumbuhan lain.

“Kami menunggu kematian setiap saat, karena pengeboman atau kelaparan. Orang dewasa makan sekali sehari, bubur tepung atau lentil,” kata seorang warga, sebagaimana dikutip Reuters. (cr1)

Sumber : https://tirto.id/ramadan-di-bawah-cengkeraman-isis-cpGm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here