BERBAGI

EkstraNews.com – Eka Juwanti, 22 tahun, seorang warga Kampung Akuarium, meninggal karena kondisi sanitasi yang buruk di daerah penggusuran. Eka salah satu dari 90 kepala keluarga yang digusur huniannya oleh pemerintahan Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Selama tiga pekan terakhir, sedikitnya tiga warga meninggal, termasuk Eka, di Kampung Akuarium yang menolak digusur dan bertahan dalam kondisi hunian yang buruk sejak 13 bulan terakhir. Mereka berjuang mempertahankan hak-hak dasar, keadilan, dan pengakuan.

Kampung Akuarium adalah salah satu dari 193 kasus penggusuran paksa yang dilakukan pemerintahan Ahok sepanjang 2016, yang berdampak terhadap 5.726 keluarga dan 5.379 unit usaha, menurut penelitian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta.

Penggusuran di Kampung Akuarium terjadi pada 11 April 2016. Ia melibatkan sekitar empat ribu personel Satpol PP DKI Jakarta atas perintah Ahok. Penggusuran tersebut, kata Ahok, diperuntukkan untuk “kepentingan revitalisasi kawasan Kota Tua.”

Eka bersama orangtuanya dan seorang adik memilih tinggal di sebuah perahu milih ayahnya. Keluarganya menolak untuk tinggal di Rusunawa yang telah disiapkan oleh Pemprov DKI.

Eka mengalami sakit sejak tinggal di perahu, beberapa waktu berselang. Dokter yang mendiagnosisnya menyimpulkan bahwa Eka menderita kekurangan kalium. Ia mesti dirawat di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, selama delapan hari.

“Pokoknya, waktu itu setelah penggusuran dia sakit. Saya lupa tanggalnya,” kata Sukarti, 41 tahun, ibu Eka, kepada reporter Tirto di kawasan gusuran Kampung Akuarium, 17 Mei lalu.

Selama pengobatan, menurut Sukarti, tak ada sama sekali bantuan dari pihak Pemprov DKI Jakarta. Padahal, menurutnya, ia bersama warga korban gusuran lain sudah mengajukan ke Pemprov untuk diberi fasilitas kesehatan.

Hal itu dibenarkan oleh Topaz, seorang warga korban gusuran lain. Ia mengatakan surat pengajuan fasilitas kesehatan telah dilayangkan ke Pemprov DKI melalui lurah Penjaringan sejak sekitar setahun lalu. Tetapi surat tersebut belum kunjung direspons hingga kini.

“Tapi, kami masih menunggu,” kata Topaz.

“Kami kalau berobat ke Puskesmas Penjaringan atau klinik saja. Bayar sendiri,” ujar Topaz di kawasan gusuran Kampung Akuarium.

Saat dikonfirmasi ke Kelurahan Penjaringan, Lurah Penjaringan Agus Sugiharto tidak ada di tempat. Menurut salah satu staf kelurahan, yang enggan menyebutkan namanya, Lurah Agus sedang pergi untuk “urusan kelurahan dan tidak bisa dipastikan kapan kembali ke kantor.” Padahal, saat itu, baru pukul 1 siang atau belum jam usai kerja.

Staf kelurahan itu menolak memberikan nomor kontak pribadi Lurah Agus.

Selama masa pengobatan di RS Koja, menurut Sukarti, putrinya menggunakan asuransi kesehatan nasional. “Anaknya memang sudah punya BPJS,” katanya.

Setelah tiga minggu dirawat, Eka dibawa pulang dan menjalani rawat jalan di Puskesmas Penjaringan, sekitar dua kilometer dari Kampung Akuarium.

Memang ada rumah sakit lain di sekitar situ, yakni RS Atma Jaya, sebuah rumah sakit elite, terletak di sebelah kantor Kelurahan Penjaringan atau sekira 1,5 kilometer dari Kampung Akuarium. Sukarti berkata “tak banyak berharap” pada rumah sakit tersebut karena tentu saja ia tak kuat membayar pengobatan di sana.

“Saya pernah punya uang hanya 50 ribu rupiah untuk hidup. Gimana? Yang kerja hanya suami saya. Kalau dulu, saya punya rumah kontrakan sebelum digusur,” katanya.

Selama merawat putrinya, keluarga Sukarti tinggal di atas perahu.

Yang Mati di Tanah Gusuran Kampung Akuarium

sumber : tirto.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here