BERBAGI

 EkstraNews.com – Mujiono tak lagi muda. Wajahnya tampak berkerut. Rambut yang hitam mulai memutih. Berusia 58 tahun, warga Jalan Pertama Nomor 42, Kedaton, Bandar Lampung, itu tiap hari menjajakan kacang rebus.

Ia jalan kaki sambil mendorong gerobak menyusuri jalanan Kota Tapis Berseri. Rata-rata ia berjalan sekitar 15 kilometer menjual kacang rebus. Selain keperluan sehari-hari, hasil keringat Mujiono juga untuk bayar kontrakan sebesar Rp600 ribu per bulan. Terkadang, penghasilannya hanya cukup untuk makan. Bahkan, ia dan sang istri pernah kelaparan.

“Saya pernah menangis melihat istri hanya minum air putih seharian. Sebab, saat itu saya sama sekali tak punya uang. Karena tak tahan lihat istri kelaparan, saya memberanikan diri meminjam uang kepada tetangga untuk membeli makanan,” ujar Mujiono dengan mata berkaca-kaca saat melintas di Jalan Kimaja, Way Halim, Selasa, 13/6/2017.

Ayah dua anak itu tiap hari berkeliling menjual kacang rebus sebanyak lima kg. Ia mencari rezeki mulai pukul delapan pagi hingga jam sepuluh malam. “Saya terkadang merasa sedih apabila pulang tidak membawa uang. Biasanya, uang yang saya peroleh hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok,” ucapnya.

Karena itu, Mujiono tak jarang berutang. Sebenarnya, ia tak ingin meminjam uang, terlebih dikenakan bunga. Namun, apa daya keadaan memaksa lelaki tua itu harus berutang. “Penghasilan berjualan kacang rebus cuma cukup untuk membiayai kehidupan keluarga, dan membeli bahan baku kacang mentah. Jadi, pendapatan yang tidak menentu terkadang membuat saya menggali lubang tutup lubang, agar tetap tercukupi dalam mengatur keuangan,” kata Mujiono.(cr1)

 

Sumber : http://duajurai.co/2017/06/13/puasa-sang-duafa-air-mata-mujiono-si-penjaja-kacang-rebus/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here