BERBAGI

EkstraNews.com – Jarum jam menunjukkan angka 15.25 WIB. Suasana di Jalan RA Kartini sedang padat merayap. Matahari masih bersinar terik sambil perlahan merangkak ke peraduannya. Seorang wanita paruh baya tampak sedang sibuk memarkirkan kendaraan di depan salah satu ruko, di seberang Mal Central Plaza, Bandar Lampung.

“Terus..terus..terus.., balas kiri..” suara itu terdengar hilang timbul diantara bising suara kendaraan yang lalu lalang. Dengan cekatan ia memberi aba-aba di jalan raya agar pengendara lain memberikan ruang bagi kendaraan yang hedak keluar area toko.

Siti Fatimah (52) adalah seorang juru parkir. Dia merupakan warga Gang Kelinci, Kelurahan Pelita, Kecamatan Tanjungkrang Timur, Bandar Lampung. Dia mengaku sudah melakoni pekerjaanya itu selama tiga tahun belakangan, karena sang suami telah meninggal dunia.

“Waktu awal-awal kerja parkir, saya masih takut untuk berhentiin kendaraan di jalan untuk memberi jalan kendaraan yang saya parkirkan. Tapi, mau tidak mau, semua itu harus dibiasakan. Karena ini kan tanggung jawab pekerjaan,” kata dia.

Siti memulai pekerjaannya dari pukul 7 pagi hingga 10 malam hingga toko yang ia jaga tutup. Namun ia menyempatkan waktu untuk beristirahat sekitar pukul 14-16 WIB. Waktu istirahatnya itu ia gunakan untuk bertemu keluarga serta anak-anaknya.

Dia adalah seorang ibu dari tiga orang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menenga Atas (SMA). Ia dan anak-anaknya tinggal di rumah sang mertua sejak sang suami meninggal tiga tahun silam. Dia berpikir, dengan tinggal bersama keluarga almarhum suaminya, kedekatan itu akan terus terasa.

“Setelah suami meninggal dunia, sempat binggung saya harus kerja apa. Terus, tanpa berpikir panjang lagi, saya melihat ada peluang jadi tukang parkir untuk menafkahi keluarga dengan cara halal tanpa harus meminta-minta,” katanya dengan mata menerawang.

Bekerja menjadi tukang parkir, penghasilan yang ia dapatkan pun tidak terlalu besar. Siti harus menyetor kembali dari hasil yang didapatkan. Dalam sehari, biasanya ia bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Cuaca hujan maupun panas tidak menyurutkan semangatnya. Meski harus bekerja di bawah terik, ia tetap berpuasa untuk menjalani perintah tuhannya.

“Walaupun sedang berpuasa kita harus tetap fokus kerja. Karena bisa saja apabila saya lalai dan tidak memperhatikan kondisi jalan sekitar, ada kendaraan yang menabrak saya saat sedang markir,” tuturnya sambil menyeka keringat di keningnya.(cr1)

 

Sumber : http://duajurai.co/2017/06/11/puasa-sang-duafa-jadi-tulang-punggung-keluarga-siti-fatimah-nekat-jadi-juru-parkir-di-jalan-kartini/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here