BERBAGI

EkstraNews.com – Pasangan suami-istri Mardio (70) dan Sadiah (66) membuktikan bahwa dalam keadaan apa pun, mereka mampu menjalaninya berdua. Kini, keduanya bahkan mengisi masa tuanya dengan berdagang es dawet. Saling mengingatkan dalam menjalankan ibadah menjadi bumbu indahnya kebersamaan mereka selama ini.

’’Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S. Ar-Ruum: 21).

’’Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (Q.S. Az Zariat: 49).

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa kuasa Allah atas manusia sangatlah besar. Allah yang menciptakan manusia berpasang-pasangan. Dan kisah Mardio–Sadiah mungkin membuat kita iri lantaran pernikahan mereka bisa langgeng hingga masa tua dalam keadaan apa pun. Keduanya tetap ceria dan kompak menjalani kehidupan di masa tua. Ya, sehari–hari mereka terlihat berjualan es dawet di turunan Jl. Wolter Monginsidi, Tanjungkarang Pusat.

Hari itu kedua pasangan lansia itu terlihat sedang berbincang-bincang sembari menunggu pembeli. Tampak kedua pasangan ini sesekali melepas tawa ketika sedang berbincang. Pembeli pun datang dan dengan sigap Sadiah mempersiapkan es dawet pesanan pelanggannya dengan sang suami yang turut membantu. Maklum di bulan ramadan minuman pembuka semacam es memang diburu untuk menu berbuka puasa.

Mardio berkisah sudah berdagang es dawet selama 15 tahun. Awalnya ia berdagang sendiri berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia berkeliling bukan dengan gerobak. Melainkan dengan memanggul dagangannya. Ia memutuskan berdagang di saat ia memasuki masa pensiunnya. Ya, dulu dirinya pernah bekerja menjadi buruh di suatu perusahaan di pulau Jawa.

Tak ada keluhan dari Sadiah yang menemani sang suami berjualan di hari tuanya. Sadiah malah merasa senang bisa menemani suami berdagang. Dengan cara membantu sang suami ia bisa melihat betapa kerasnya perjuangan sang suami dari muda hingga tua. Ia teringat di saat sang suami mempersuntingnya  46 tahun lalu, sang suami berjanji akan melindungi dan berusaha menafkahi ia hingga tua nanti.

Mungkin karena janji itu Mardio memilih untuk tetap berdagang di hari tuanya. Mardio dan Sadiah memiliki impian untuk dapat berangkat haji berdua. Tak ada keinginan lainnya. Menurut mereka, kebahagiaan mereka saat ini sudahlah cukup. Mengantarkan ketiga anaknya menikah dan melihat cucu-cucunya tumbuh. Impian yang sedang mereka coba gapai adalah menunaikan haji.

Sudah bertahun-tahun bulan ramadan mereka lewati berdua dengan berdagang es dawet. Mereka selalu bersyukur diberi kesempatan merasakan bulan ramadan kembali. Tak sedikitpun ramadhan mereka lewatkan tanpa tak berpuasa. Menurut mereka dengan berdoa dan beribadah Allah akan memberikan rezeki berupa kesehatan. Setiap ramadan mereka selalu berdoa agar diberikan keberkahan dan rezeki yang lebih agar bisa menyisihkan uang demi bisa menunaikan haji.

Mereka memiliki tiga orang anak dan tujuh cucu yang memilih merantau di pulau Jawa. Mardia memilih berdagang karena menggantungkan hidup dari berdiam diri sangat membosankan. Ia memutuskan berdagang es dawet yang saat itu anaknya sempat tak mengizinkan dengan alasan usianya. Namun ia membuktikan bahwa usia tidaklah menjadi hambatan baginya.

Sang istri mulai ikut berdagang setelah dua tahun ia berdagang. Alasannya adalah jenuh di rumah sendirian. Mereka pun memutuskan untuk mencari tempat untuk berdagang. Awalnya mereka berdagang di seputaran Pasar Kangkung, Telukbetung. Mereka mulai menjajakan dagangannya sejak pukul 08.00 wib hingga habis di sore hari. Di hari-hari biasa pembelinya tak seramai bula ramadan. (cr1)

 

Sumber : http://radarlampung.co.id/read/setia-hingga-tua-bersama-kejar-mimpi-naik-haji/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here