BERBAGI

EkstraNews.com – Bandar Udara (Bandara) Raden Inten II ternyata belum memiliki fasilitas klinik kesehatan. Bandara yang berada di kawasan Natar, Lampung Selatan, tersebut juga belum memiliki standar operasional prosedur (SOP) memadai dalam pelayanan kesehatan, terutama untuk kejadian gawat darurat.

Ini terasa ironis mengingat bandara kebanggaan masyarakat Lampung tersebut secara fisik telah menjelma lebih modern dan segera berstatus bandara internasional. Kondisi memprihatinkan ini setidaknya seperti dialami penumpang asal Palembang, Sumatera Selatan, Indra Kusumajaya pada Sabtu petang, 1/7/2017.

Indra yang hendak mudik pasca Lebaran ke Bandar Lampung kecewa barat dengan otoritas Bandara Raden Inten II. Ia merasa tidak mendapat layanan kesehatan secara optimal saat kolaps dan kesakitan ketika baru saja mendarat seusai menumpang pesawat Garuda Indonesia dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang.

“Saya baru saja turun dari pesawat sekitar pukul 6 sore. Pas lagi jalan dari pesawat ke gedung bandara, tiba-tiba saya tidak bisa bernafas. Perut saya keram. Saking tidak tahannya saya sampai tiduran di aspal bandara,” tutur Indra.

“Sampai sekitar 5-10 menit saya terkapar di aspal, sambil teriak-teriak hingga akhirnya datang dua petugas bandara,” sambung pria yang orangtuanya tinggal di kawasan Telukbetung ini. “Saya lalu minta kepada mereka dibawakan kursi roda.”

Dengan menahan perut sakit dan nafas terengah, Indra meminta kepada petugas agar dibawa ke klinik bandara supaya mendapatkan pertolongan pertama. “Saya minta dibawa ke klinik, tapi petugas bandara itu malah pada bingung. Saya tanya ini masih program mudik kan, harusnya kan ada klinik, mana? Dan mereka tetap tidak bisa jawab. Akhirnya mereka bilang kliniknya memang tidak ada,” tandasnya.

Dalam situasi tersebut, terang Indra, sama sekali tidak ada tindakan pertolongan medis kepadanya selain hanya dibawakan kursi roda. Dari dua petugas, hanya satu yang aktif dan mendorong kursi roda sampai ia dan keluarga naik taksi bandara. “Petugas lain banyak, tapi cuma tanya-tanya doang,” ujarnya.

Ia menyayangkan para petugas yang tampak cuek meski melihat situasi darurat di depan mata. Ia menilai para petugas bandara sebagian besar tidak memilik empati. “Saya ngap-ngapan, istri saya antre ambil bagasi sambil lari-lari kejar anak saya, mereka diam saja. Padahal saya juga bilang, Pak, bisa minta tolong ambilkan bagasi kami. Istri saya susah tuh sambil jaga anak.”

Menurut Indra, sungguh disayangkan di bandara, apalagi berstatus internasional tidak memiliki klinik kesehatan dan SOP pertolongan pertama terhadap kondisi darurat medis. “Ini konyol namanya,” katanya gusar. “Tolong sampaikan ke pengelolanya biar semakin baik pelayanan bandara ini.”(cr1)

 

Sumber : http://duajurai.co/2017/07/01/tidak-ada-klinik-kesehatan-di-bandara-raden-inten-ii-pemudik-asal-palembang-terkapar-kesakitan-di-aspal/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here