BERBAGI

EkstraNews.com – GUNUNG SUGIH – Pelayanan Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB) Gunung Sugih menuai keluhan dari pasien.

Setelah menunggu selama lima jam, pasien yang menderita stroke itu tidak juga mendapatkan pelayanan.

Itulah yang dialami Misna (48), warga Gunung Sugih, pada Selasa (8/8) lalu.

Padahal, ia menjalani pengobatan rutin di rumah sakit yang berada di Kelurahan Seputih Jaya tersebut.

“Kami datang jam setengah delapan (pagi). Tapi, sampai jam setengah 11 nggak juga mendapatkan penanganan. Kalau ditotal, kami menunggu sekitar lima jam,” tutur Aang Depa Yuda (26), anak Misna, Rabu (9/8).

”Saya udah tanya ke bagian pendaftaran. Katanya, berkas sudah diberikan ke bagian poli. Tapi, saat dikonfirmasi saya disuruh tanya lagi ke bagian pendaftaran,” bebernya.

Anehnya, lanjut Aang, pihak rumah sakit malah melayani pasien lain yang datang belakangan.

“Saat saya coba konfirmasi ke petugasnya, mereka hanya bilang, ’Iya, Mas, sabar, sabar, tunggu’,” lanjut Aang.

Ternyata, kata Aang, keganjilan pelayanan yang dialami ayahnya belum berhenti sampai di situ saja.

Setelah berada di ruang dokter selama satu jam, Misna tidak juga diperiksa.

“Padahal, dokternya ada di dalam. Setelah giliran ayah saya, hingga satu jam nggak juga ditangani. Ada apa ini?” keluhnya.

Lucunya lagi, sambung Aang, petugas RS menuliskan jenis kelamin sang ayah pada formulir pendaftaran dengan sebutan nyonya.

Padahal, di KTP dan KK sudah jelas disebutkan Misna adalah seorang laki-laki.

Saat dikonfirmasi, Direktur RSHB Ari Hidayat enggan berkomentar.

Sementara staf verifikator Maria Anike membantah pihaknya menolak memberikan pelayanan kepada pasien Misna.

Ia beralasan dokter spesialis terlambat datang.

“Kami minta maaf. Tapi, ini lebih karena dokternya datang jam sembilan,” ujar Maria.

Untuk menindaklanjuti pengaduan ini, Maria mengaku telah mengumpulkan staf di bagian administrasi dan pelayanan.

Ia berharap ke depan tidak ada lagi keluhan serupa dari masyarakat.

”Kami juga akan menindak tegas staf yang melalaikan pasien. Bahkan, kami siap memberikan sanksi berupa peringatan dan pemecatan,” tandasnya.

Bupati Lampung Tengah Mustafa menyayangkan adanya insiden penolakan pasien oleh RS Harapan Bunda.

Menurut dia, tidak seharusnya pegawai RS Harapan Bunda bersikap tidak ramah terhadap pasien.

Mustafa menuturkan, semua rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, harus memberikan pelayanan maksimal.

Jika manajemen RS Harapan Bunda tidak segera membenahi pelayanan, pemkab akan mencabut izinnya.

”Bisa saya cabut izinnya,” ucap Mustafa, Rabu (9/8).

”Saya menitipkan pasien pada RS Harapan Bunda. Kalau keberatan, akan saya pindahkan ke RS Demang Sepulau Raya,” tandasnya.

Hal sama dikatakan Ketua Komisi IV DPRD Lamteng Dedi Syaputra. Ia meminta pihak rumah sakit memberikan pelayanan maksimal.

Menurutnya, tidak ada alasan bagi rumah sakit membeda-bedakan pasien yang ditangani terlebih dahulu.

“Jangan sampai ada pasien yang tidak dilayani. Semua, mau dia umum, BPJS, Askes, atau lainnya, begitu dia mendaftar ke rumah sakit, ya harus mendapatkan penanganan medis. Begitu juga dokternya, harus bekerja sesuai sumpah jabatan. Jadi jangan lagi sampai ada keluhan serupa ke depannya,” kata Dedy. (zul)

 

 

Sumber : tlpg

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here