BERBAGI

EkstraNews.com – GUNUNGSUGIH – Polres Lampung Tengah tengah melakukan proses penyelidikan kasus dugaan pungutan liar (Pungli)  atas bantuan benih padi dan jagung di Kampung Kotagajah Timur,  Kecamatan Kotagajah,  Lampung Tengah.  Demikian dikatakan Kasatreskrim Polres Lampung Tengah,  AKP Resky Maulana,  kepada Rakyat Lampung,  Kamis (14/09/2017).

“Dugaan atas kasus pungli bantuan benih tersebut sudah didisposisikan dari Kapolres ke Sat Intelkam. Ini sedang djlakukan lidik-pulbaket,” ujarnya.

Dijelaskannya, apabila setelah diselidiki dan dilakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) ternyata ditemui benar ada indikasi tindak pidana pada penyaluran benih tersebut, maka kasusnya akan ditangani di Reskrim.

“Ini baru lidik-pulbaket. Setelah itu baru kita simpulkan. Kalau memenuhi unsur, akan langsung ditanganj Sat Reskrim,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan,  petani di Kampung Kotagajah Timur,  Kecamatan Kotagajah,  Lampung Tengah mengaku resah atas praktek pungli dalam penyaluran bantuan benih padi dan jagung. Pungli bantuan pemerintah ini disebut-sebut dilakukan oleh oknum di bawah naungan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju Lestari.

Keterangan yang diperoleh Rakyat Lampung,  petani asal Desa Kotagajah Timur, Minggu (10/9/2017) menyebutkan, hal itu dialami mereka saat menerima bantuan benih padi dan jagung dari kelompok tani. Mereka dipungli Rp 2 ribu per Kilogram (Kg).

“Setiap kelompok rata-rata dapat bantuan benih 500 Kg, sehingga harus mengeluarkan uang pengganti sedikitnya Rp1 juta per kelompok. Uang kita setorkan langsung ke Bendahara Gapoktan,” beber petani di desa kotagajah Timur.

Sementara,  Bendahara Gapoktan Maju Lestari, Yudi saat dikonfirmasi membantah adanya setoran tersebut.  Menurutnya,  bantuan benih padi dan jagung yang sudah didistribusikan kepada masing-masing kelompok itu gratis tanpa ada biaya.

“Ini bantuan pemerintah.  Jadi tidak benar kalau ada pungutan-pungutan. Coba kasih informasi ke saya petani mana yang ngaku diminta bayar begitu,” ujarnya via ponsel Sabtu (9/9/2017).

Sayangnya,  keterangan berbeda justru disampaikan Ketua Gapoktan Maju Lestari,  Jumiran. Pihaknya justru mengakui adanya penarikan dana bantuan benih kepada para petani di kampung tersebut.  Ia berdalih,  biaya yang ditetapkan merupakan hasil kesepakatan antar anggota Gapoktan untuk biaya operasional. 

“Biaya itukan sudah kesepakatan.  Untuk biaya kuli dan kas Gapoktan.  Itu kelompok tani setor ke Gapoktan melalui Bendahara, ” pungkasnya.

Sementara,  Kepala Dinas Pertanian Lampung Tengah,  Muliwan menyayangkan adanya dugaan pungutan liar tersebut.  “Kalau bentuknya bantuan,  jelas tidak ada biaya apapun.  Semuanya gratis.  Kalau ada petani yang mengaku diminta uang, silahkan laporkan kesaya. Ini akan kita tindaklanjuti, ” tegas mantan Camat Kotagajah,  Lamteng ini.(zul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here