BERBAGI
EkstraNews.com – Pringsewu – Sungguh malang nasib Wulandari (10) anak dari pasangan Suparman (63) dan Bonirah warga Rt2 dusun 2 Pekon Sukoharjo 1 Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Pringsewu, Pasalnya harus dipasung dengan menggunakan rantai karena diduga kerap berprilaku membahayakan orang lain.
Kondisi rumah tidak layak dengan berlantaikan tanah dan pekerjaan yang serabutan serta keterbatasan biaya tidak bisa membawa Wulandari ke rumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut.

Menurut Suparman(63) mengatakan bahwa Wulandari adalah anak ke lima dari pasangan istri keduanya Bonirah yang bekerja sebagai tukang pijit panggilan ke rumah.

“Wulandari anak kelima di rawat oleh sodaranya sejak baru lahir saat usianya baru berumur satu hari setelah melahirkan, “Katanya. (6/12).
Dikatakannya, Wulandari (10) dari umur bayi satu hari diambil dan dirawat oleh sodaranya tumini dan abud warga pekon Sukamulya Kabupaten Pringsewu.
” Setelah Abud meninggal Wulandari dibawa sama Tumini ke Jakarta, namun selama 2 tahun tahun ini tinggal bersama kami kembali, “Ucapnya.
Lanjutnya, Selama ini Wulandari sering berprilaku yang membahayakan dengan menghidupkan kompor tetangga sehingga memaksanya untuk d pasung rantai.
” Sering hidupin kompor tetangga sehingga kami harus memasung dengan rantai,  awal waktu di rante nangis, sudah dua bulan ini di rantai saat orang tua kerja, ” Ungkapnya.
Tim LK3 Dinas Sosial Pringsewu didampingi Jajaran Polsek Sukoharjo, Dinas Kesehatan Kabupaten Pringsewu,  Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Pringsewu, PSM Sukoharjo melakukan Home Visit Penjangkauan sebagai tindak lanjut kunjungan terdahulu, Hal ini bertujuan untuk melakukan observasi psikologis oleh psikolog yang tergabung dalam Tim LK3.
Menurut psikolog Nur Hayati, dari hasil observasinya diambil kesimpulan sementara bahwa klien mengalami tekanan secara psikologis karena beberapa faktor, yaitu pola asuh dan speech delay. Pola asuh yg salah dpt mengakibatkan tekanan psikologis bagi si anak. Sebagaimana keterangan orang tua anak yg mengatakan bahwa, awalnya W sering sekali dikurung di dalam kamar saat ibu asuh nya pergi bekerja. Dengan dikurung menyebabkan anak tidak dapat bersosialisasi dengan teman sebayanya, tdk mendapatkan waktu yang cukup untuk bermain, sehingga  perkembangannya pun mengalami hambatan dan memgakibatkan speach delay.
Dari hasil penjangkauan/kunjungan diperoleh informasi bahwa W, sering mengeluh sakit kepala di bagian belakang. Hal ini tentunya  memerlukan pemeriksaan medis dari dokter spesialis yang berkompeten.
“Akan kami bicarakan terlebih dahulu dengan tim untuk masalah ini”, kata Nur Hayati.
Sedangkan untuk pemulihan psikologisnya akan dilakukan kunjungan rutin dalam setiap minggunya, baru kemudian dilakukan terapi “speech delay”, lanjutnya.
Melihat kondisi tersebut diambil langkah untuk segera dilakukan penyesuaian berkas administrasi kependudukan keluarga tersebut, mengingat nama W tidak masuk dalam daftar Kartu Keluarga (KK) orang tua kandung, tetapi masuk dalam KK orang tua asuhnya. Hal ini perlu dilakukan menyangkut keanggotaan  untuk memperoleh fasilitas layanan kesehatan melalui BPJS/KIS.(Sol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here