BERBAGI

 Persib Bandung yang berstatus jawara edisi perdana Piala Presiden 2015 harus melupakan mimpi mengulang prestasi tahun ini. Tim Maung Bandung tersingkir dari persaingan turnamen pramusim secara menyakitkan.

Persib tersungkur di persaingan Grup A dengan hanya menghuni posisi tiga besar. Sriwijaya FC menempati posisi teratas klasemen.

Tim asuhan Mario Gomez mengalami dua kekalahan, yakni saat menjajal PSMS Medan (0-2) dan PSM Makassar (0-2). Padahal, Hariono dkk. sempat di atas angin ketika memenangi duel pembuka kontra Sriwijaya FC dengan skor 1-0.

Pertandingan versus PSM yang digelar Jumat (26/1/2018) di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Gedebage, sejatinya jadi kesempatan bagi Persib buat membuka peluang lolos ke perempat final. Pada hari yang sama, PSMS menderita kekalahan 0-2 dari Sriwijaya FC.

Sayang, Persib gagal memanfaatkan kesempatan emas dengan kalah melawan Tim Juku Eja. Padahal, kubu lawan menurunkan skuat lapis kedua dengan banyak pemain muda.

Persib punya peluang mendulang poin absolut, setelah Zulkifli Syukur dikartu merah pada pertengahan babak kedua. Namun, yang terjadi sebaliknya, PSM dengan modal 10 pemain malah menjebol gawang Tim Pangeran Biru.

Dari tiga pertandingan Persib di Grup A terlihat kalau klub kampiun Indonesia Super League 2014 penampilannya tidak stabil. Gomez belum menemukan klik dengan pemain-pemainnya.

Apa saja kekurangan tim yang satu ini?

1. Terlalu Banyak Serdadu Tua

Regenerasi jadi persoalan utama Persib Bandung. Terlalu banyak pemain gaek di Tim Maung Bandung.

I Made Wirawan (36 tahun), Supardi Nasir (34), Tony Sucipto (31), Atep Rizal (32), Hariono (32), Sergio van Dijk (35), Victor Igbonefp (32), deretan pemain yang bisa dibilang telah melewati masa keemasan. Sebagian besar di antara mereka masih jadi pelanggan posisi inti.

Persib kian kental aroma serdadu veteran, saat manajemen Persib memboyong balik Airlangga Sucipto (32) dan Eka Ramdani (33) jelang Piala Presiden 2018. Keduanya beberapa musim terakhir tak pernah mentas di klub elite lagi.

Deretan pemain asing Tim Pangeran Biru, Bojan Malisic (33),  Michael Essien (35), Oh In-kyun (32) juga usianya tidak lagi muda.

Memang ada upaya manajemen dengan memberi kesempatan bermain lebih besar pada pemain didikan Akademi Persib. Sayangnya, di antara deretan pemain belia Persib macam, Febri Haryadi (21), Gian Zola (19), Billy Keraf (20), Puja Abdillah (21), tak semuanya rata mendapat jam terbang tinggi bertanding.

Sebagian besar di antara mereka lebih sering duduk di bangku cadangan. Jangan heran dengan modal pemain-pemain gaek Persib seperti kesulitan menghadapi tim-tim pesaing yang punya skuat lebih segar dengan banyak young guns.

2. Belanja Pemain Asing yang Lambat

Kebijakan transfer pemain Persib di era Mario Gomez cenderung lambat.

Jelang Piala Presiden 2018 Persib baru mendaratkan dua legiun impor, Bojan Malisic dan Oh In-kyun, plus ditambah Victor Igbonefo yang dihitung sebagai pemain naturalisasi.

Kedatangan Oh In-kyun bahkan sempat dipertanyakan banyak bobotoh. Gelandang asal Korea Selatan itu dinilai kurang pantas bermain di Persib. Kualitasnya dipandang biasa-biasa saja, tak pernah berkarier di klub top Tanah Air.

Di sisi lain Persib memilih mempertahankan Michael Essien Ezechiel N’Douassel yang rapotnya kurang mengkilap di pentas Liga 1 2017.

Di sektor pemain lokal Persib mendatangkan duo Airlangga Sucipto dan Eka Ramdani, yang dinilai tidak lagi berada di top level.

Airlangga lebih banyak jadi pemain cadangan di Sriwijaya FC. Sementara itu, Eka berkiprah di klub papan bawah, Persela Lamongan.

Bandingkan dengan pesaing di Grup A, Sriwijaya FC dan PSM Makassar, yang banyak mendatangkan pemain baru, kebijakan transfer Persib terkesan stagnan. Padahal, klub yang satu ini dikenal kaya raya dan royal membayar pemain.

3. Mario Gomez Masih Kesulitan Beradaptasi

Pelatih asal Argentina, Mario Gomez, punya reputasi mentereng di klub Malaysia, Johor Darul Ta’zim (JDT). Tim tersebut jadi penguasa Liga Super Malaysia. Ditangan Gomez mereka sempat juara Piala AFC pada musim 2016 silam.

Namun, Gomez pengetahuannya minim soal sepak bola Indonesia. Pengalaman yang minim membuatnya butuh waktu buat beradaptasi.

Sang mentor hanya punya hitungan waktu kurang dari sebulan mempersiapkan Persib buat bertarung menghadapi Piala Presiden 2018. Gomez menyebut sekurangnya ia butuh enam bulan buat membangun soliditas permainan Tim Maung Bandung.

Waktu yang terhitung lama, yang mungkin tidak bisa ia dapatkan. Bobotoh Persib dikenal sangat rewel jika klubnya tidak berprestasi. Dalam sejarah, belum pernah ada pelatih asing yang sukses di Tim Pangeran Biru. Sudah delapan arsitek menepi dengan cara tidak enak karena gagal mempersembahkan trofi buat Persib.

Kegagalan Persib melaju ke fase perempat final bisa jadi membuat tidur Mario Gomez tidak akan tenang. Kursinya mulai panas.

Akan tetapi manajemen Persib juga tidak semestinya lepas tangan. Mereka yang menggaet nakhoda berusia 61 tahun, dan mengaku sangat yakin Gomez bisa mengerek prestasi Persib yang musim 2017 lalu terpuruk.(plp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here