BERBAGI

Dinas Peternakan dan Perkebunan (Disnakbun) Tanggamus menerapkan pola kemitraan dan mandiri untuk mengembangkan budi daya dan pemasaran tembakau.

Menurut Kepala Seksi Produksi dan Pembenihan Disnakbun Tanggamus Hadison, kedua pola pengembangan tersebut kaitannya dengan pemasaran.

Dia menjelaskan, pola mandiri yakni petani langsung memasarkan tembakau ke pengepul. Sedangkan pola kemitraan, hasil panen dijual melalui Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI).

Di Tanggamus, kata Hadison, perusahaan mitra tembakau adalah Gudang Garam.

“Memang kalau harga lebih tinggi di pengepul lokal, yakni Rp 100 ribu per kg. Sedangkan sistem kemitraan di kisaran Rp 38 ribu per kg. Tapi, benih dan sarpras budi daya dari pihak mitra,” ujar Hadison, Minggu, 21 Januari 2018.

Hadison menyebutkan, luas lahan yang menerapkan pola mandiri mencapai 107 hektare. Sedangkan pola kemitraan hanya 13 hektare.

Varietas yang dikembangkan dalam sistem kemitraan adalah jenis ganung dan krosok. Sedangkan yang mandiri berbagai jenis. Namun, umumnya varietas krijing. (trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here