BERBAGI

Pesawaran,(Ekstranews.com) – Warga Dusun Margorejo, Desa Kurungan Nyawa, Gedong Tataan, Pesawaran, dihebohkan dengan kedatangan sejumlah polisi berpakaian serba hitam dan bersenjata laras panjang, Jumat (18/5). Kabar yang santer beredar, kedatangan polisi terkait penangkapan terduga teroris.

Namun, hingga berita ini turun pada Jumat pukul 22.30 WIB, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian.

Informasi yang dihimpun Tribun, polisi menggerebek rumah kontrakan yang ditempati Supriyanto bersama istri dan anaknya di Jalan Nasikin Dusun Margorejo II RT 01, Desa Kurungan Nyawa.

Di rumah itu, polisi mengamankan istri dan anak Supriyanto.

Sedangkan Supriyanto lebih dulu diamankan di pasar daerah Kaliawi, Bandar Lampung, tempat ia berjualan sehari-hari.

Polisi juga mengamankan sejumlah barang, antara lain delapan unit ponsel, beberapa buku, dan baju hitam bertuliskan khilafah.

“Ya tadi itu ada beberapa buku dan baju, termasuk baju hitam yang ada tulisan khilafah, yang dibawa,” kata Yudi, Ketua RT 01 Dusun Margorejo II, Jumat.

Ia menuturkan, kejadian tersebut mengejutkan warga setempat.

Setidaknya ada lima unit mobil polisi yang datang dan langsung mendatangi rumah Supriyanto.

“Saya itu kaget. Awalnya saya pikir kasus narkoba, tapi ternyata tadi (kemarin) katanya indikasi dugaan teroris,” kata Yudi.

Menurut dia, personel kepolisian yang datang mengenakan pakaian serba hitam dan membawa senjata laras panjang.

Namun, Yudi mengaku tidak bisa membedakan apakah polisi yang datang adalah anggota Densus atau Brimob.

“Pakai rompi, katanya di sini cuma pengembangan. Tapi istri sama anaknya dibawa,” terangnya.

Yudi menuturkan, Supriyanto sudah diamankan terlebih dulu di pasar tempatnya berdagang.

“Katanya suaminya sudah dibawa polisi di pasar. Kan dia (Supriyanto) dagang di pasar di daerah Kaliawi” ujarnya.

Yudi menuturkan, Supriyanto belum lama tinggal di lingkungan tersebut. Tepatnya sejak pertengahan 2016.

Menurut dia, keluarga Supriyanto jarang berbaur dengan warga sekitar.

“Infonya sih dia (Supriyanto) dari Bernung, Pesawaran. Keluarganya jarang ngumpul tetangga, paling sekali dua kali saja,” ujarnya.(trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here