BERBAGI

Sport,(Ekstranews.com) – Brasil terlihat kesulitan di laga lawan Kosta Rika. Namun hal itu justru menunjukkan kehebatan permainan Brasil di Piala Dunia 2018 ini.

Brasil dalam kondisi genting pada laga lawan Kosta Rika. Koleksi satu poin di tangan membuat mereka harus menang lawan Kosta Rika. Celakanya, Kosta Rika menerapkan strategi defensif sejak awal pertandingan dengan formasi 5-4-1.

Di babak pertama, ramuan Tite tidak bekerja dengan baik. Kosta Rika mampu menutup pergerakan pemain-pemain Brasil dengan baik. Tidak ada satu pun pemain Brasil yang dibiarkan berlama-lama bebas menguasai bola.

Brasil kesulitan dalam laga lawan Kosta Rika, itu benar. Namun dalam laga tersebut, Brasil menunjukkan kualitas mereka sebagai calon pemenang di Piala Dunia 2018.Pada 45 menit pertama, Brasil hanya mampu melepaskan satu tembakan tepat sasaran, yaitu tendangan Marcelo yang mudah diamankan oleh Keylor Navas. Selebihnya, tembakan-tembakan pemain-pemain Brasil melenceng dari sasaran.

Masuk ke babak kedua, Selecao bermain lebih baik. Masuknya Douglas Costa dan Roberto Firmino membuat skema serangan Brasil lebih tajam. Tambahan Firmino di lini depan membuat Brasil punya lebih banyak pemain di kotak penalti Kosta Rika.

Kualitas Mental BrasilHebatnya, pemain-pemain Brasil tidak terlihat bertumpuk dan mampu memainkan umpan-umpan pendek di sekitar kotak penalti untuk merusak pertahanan yang digalang Giancarlo Gonzalez dan kawan-kawan.

Di 45 menit kedua, serangan-serangan Brasil jauh lebih membahayakan. Tembakan-tembakan yang dilepaskan Neymar dan kawan-kawan lebih sering tepat sasaran.

Namun, perbaikan kualitas Brasil itu tak lantas menuai hasil. Kiper Kosta Rika, Keylor Navas masih berdiri kokoh menghalau serangan-serangan Brasil. Ada banyak peluang yang mampu dimentahkan oleh Keylor Navas, salah satunya saat menepis tembakan keras Neymar dari jarak dekat di menit ke-57.

Tusukan Douglas Costa diakhiri umpan matang ke arah Neymar. Neymar tanpa kesulitan menceploskan bola masuk ke gawang.Setelah mencetak gol, Brasil tak memilih untuk bertahan. Mereka sadar bahwa serangan adalah pertahanan terbaik. Alhasil, gol kedua Brasil kembali datang di detik-detik akhir. Neymar sudah terlihat frustrasi, terlebih saat wasit Bjorn Kuipers membatalkan keputusan penalti setelah melihat VAR pada menit ke-78. Enam menit sebelumnya, Neymar juga gagal menuntaskan peluang emas saat ia berhadapan dengan Navas.

Meski pemain-pemain Brasil terlihat frustrasi, alur serangan Brasil masih terus jelas dan lugas di sisa waktu yang ada. Selecao bisa menyerang dari sisi kanan maupun kiri sehingga fokus pertahanan Kosta Rika tidak bisa ditempatkan pada satu alur serangan saja.

Usaha Brasil untuk menembus pertahanan Kosta Rika pada akhirnya berbuah di masa injury time. Umpan silang Marcelo berhasil diteruskan oleh sundulan kepala Roberto Firmino ke arah Gabriel Jesus.

Jesus mengontrol bola dengan posisi badan masih membelakangi gawang. Philippe Coutinho yang melihat posisi bola memutuskan menyeruak dan menyodok bola masuk ke gawang. Brasil unggul 1-0 di masa krisis.

Di tengah situasi sulit, Brasil tetap mampu menunjukkan kualitas serangan mereka. Saat pertandingan makin mendekati akhir, tekanan Selecao justru makin tinggi. Kosta Rika tak dibiarkan bernapas dan mengulur-ulur waktu.

Kemenangan 2-0 membuat Brasil kini layak dikembalikan ke posisi semula sebagai favorit juara. Penampilan Brasil di laga lawan Kosta Rika menjadi salah satu performa atraktif yang ada di gelaran Piala Dunia 2018 sejauh ini.

Ada total 19 tembakan ke gawang Kosta Rika, sembilan di antaranya tepat sasaran. Brasil pun mendominasi penguasaan bola dengan 66 persen di laga tersebut.

Kemenangan di masa kritis jelas akan meningkatkan kepercayaan diri dan mental Brasil dalam perjalanan mereka di Rusia selanjutnya.

Masalah Tersisa

Salah satu masalah tersisa bagi Brasil adalah efektifitas di lini depan. Melihat penampilan Brasil di dua laga, catatan tiga gol, dua di antaranya di masa injury time, jelas kurang menunjukkan kegarangan sebagai tim dengan lini serangan yang mematikan.

Dalam dua laga awal, Gabriel Jesus diplot Tite sebagai penyerang tengah. Menilik penampilan Jesus, rasanya Tite perlu mempertimbangkan Roberto Firmino untuk turun lebih dulu di laga berikutnya.

Firmino punya kemampuan berperan sebagai penyerang tengah yang bertipe ‘false nine’. Dengan adanya Firmino, ia bisa membuka ruang untuk Neymar, Coutinho, dan Willian masuk dari lini kedua. Firmino juga piawai memainkan bola-bola pendek di area kotak penalti.

Untuk lini tengah, Casemiro dan Paulinho terbukti mampu menjaga keseimbangan dan menopang lini serang Brasil. Sedangkan untuk lini belakang, Brasil butuh laga lain untuk membuktikan kesiapan mereka berburu Piala Dunia 2018. (cnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here