BERBAGI

Jakarta,(Ekstranews.com) – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan bunga dana dan kredit bakal meningkat seiring kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang mencapai 100 bps sepanjang tahun ini. Kenaikan bunga pun diperkirakan bakal berdampak pada melambatnya pertumbuhan kredit.

Kepala Group Risiko Perekonomian dan Sistem Keuangan LPS Dody Arifianto menjelaskan pertumbuhan kredit hingga bulan Mei 2018 mulai mencatatkan pemulihan dan berada di kisaran 10,26 persen secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pertumbuhan kredit beresiko kembali mengalami perlambatan akibat kenaikan bunga dana maupun kredit oleh perbankan.

“Kendati demikian, hingga akhir tahun, pertumbuhan kredit diperkirakan akan berkisar di level 10 persen, sedangkan DPK akan mencapai sekitar 8 persen,” ujar Dody dalam Laporan Indikator Likuiditas Juli 2018, seperti dikutip Senin (16/7).

Berbeda dengan pertumbuhan kredit yang membaik, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan terus melambat. Pada Mei 2018, pertumbuhannya hanya mencapai 6,47 persen. Kondisi ini membuat rasio simpanan terhadap kredit (Loan to Deposit Ratio/LDR) perbankan naik menjadi 91,43 persen.

Rata-rata bunga deposito rupiah bank yang menjadi benchmark LPS pada akhir Juni 2018 naik 6 bps dari bulan sebelumnya mencapai 5,48 persen. Rata-rata suku bunga minimium simpanan juga naik 4 bps menjadi 4,71 persen.

Sementara tingkat bunga deposito valas juga terpantau naik sekitar 3 bps hingga 10 bps, terutama pada bunga rata-rata dan maksimum.

“Kenaikan suku bunga rupiah dan valas yang masih terbatas mengindikasikan bank secara bertahap melakukan penyesuaian terhadap kenaikan tingkat bunga acuan,” Jelas Dody.

Dody memperkirakan kenaikan bunga simpanan atau dana akan terus berlanjut pada secara bertahap merespons kenaikan bunga BI. Kenaikan tersebut pun berpotensi diikuti oleh kenaikan tingkat bunga kredit secara bertahap dan selektif dalam 3 hingga 6 bulan ke depan. (cnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here