BERBAGI

Lampung Selatan,(Ekstranews.com) – Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di selat Sunda masih menunjukan kondisi fluktuatif. Sempat menurun, akhir pekan ini aktivitas GAK kembali menunjukkan peningkatan.

Berdasarkan data Volcanic Activity Report (Magma-VAR) pada Sabtu (21/7) kemarin hingga pukul 24.00 WIB, masih tercatat adanya 107 letusan dengan amplitudo 20-52 mm dan durasi 17 hingga 86 detik.

Pada siang hari pengamatan visual ke arah GAK tidak bisa teramati secara langsung karena tertutup kabut. Sedangkan pada malam hari dari pantauan CCTV teramati adanya guguran lava pijar ke arah selatan dan juga sinar api.

“Pada malam hari juga terpantau adanya suara letusan yang getarannya sampai pada pos PGA,” kata Andi Suardi, kepala Pos Pantau GAK di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa, Minggu (22/7).

Selain letusan, juga masih terpantau adanya hembusan kawah sebanyak 105 kali dengan amplitudo 3-22 mm dan durasi 13-67 detik. Untuk gempa tremor nonharmonik terpantau sebanyak 19 kali dengan amplitudo 2-9 mm dan durasi 42-81 detik.

Kemudian juga teramati gempa vulkanik dangkal dengan jumlah 60 kali yang memiliki amplitudo 3-16 mm dan durasi 4-14 detik. Juga gempa vulkanik dalam sebanyak 10 kali dengan amplitudo 12-50 mm, S-P : 1-2,5 detik. Durasi 12 hingga 21 detik.

“Untuk status GAK masih pada level II Waspada. Di mana nelayan dan juga pengunjung (tourist) dilarang mendekati kawah dalam jarak 1-2 kilometer,” terang Andi.

GAK sendiri merupakan salah satu gunung api yang aktif di Indonesia. Gunung api yang terbentuk di bekas letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 silam ini, memang selalu menunjukkan aktivitasnya sejak muncul dari dalam laut pada tahun 1930 lalu.

Lebih lanjut Andi Suardi mengatakan, gunung api yang terus mengalami pertumbuhan tersebut memiliki periode peningkatan aktivitas dalam rentang 1-8 tahun.

“Kalau dilihat dari data peningkatan aktivitas. Tren peningkatan aktivitasnya rentang 1-8 tahun,” ujarnya.

Setiap Tahun Ada Peningkatan Aktivitas
Andi Suardi, kepala Pos Pantau GAK di Desa Hargo Pancuran Kecamatan Rajabasa, mengatakan, untuk peningkatan aktivitas yang cukup menonjol, sejak berdirinya pos pantau di Hargo Pancuran tercatat pada tahun 1995. Kemudian tahun 2001 dan 2007. Lalu 2012 dan 2018.

“Sebenarnya kalau dari data, hampir setiap tahun ada peningkatan aktivitas,” terang Andi, Minggu (22/7).

Sedangan untuk 6 tahun terakhir, peningkatan aktivitas pada tahun 2012 lalu tercatat yang cukup besar. Di mana abu vulkanik dari hasil erupsi GAK terbawa angin hingga sampai ke Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran. Bahkan material dari hasil erupsi ini mengubah landscape gunung ke arah pulau Rakata.

GAK sendiri disinyalir terus mengalami pertumbuhan. Saat ini, lanjut Andi, ketinggian GAK mencapai sekitar 305 meter dari permukaan laut.

Untuk pola erupsi (letusan) GAK, lanjut Andi, memiliki pola strombolian. Di mana asap/abu dari kegiatan aktivitas pada kawah gunung akan membentuk seperti tiang tinggi yang menjulang.(trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here