BERBAGI

Bandar Lampung,(Ekstranews.com) —  Seorang siswi SD Lampung menorehkan prestasi di ajang Fashion Model Singapore Expo 2019.

Gadis berusia 10 tahun itu bernama Javanesa Octa Viola.

Ia merupakan siswi SD Tunas Mekar Indonesia.

Ia menyabet dua trofi di kontes yang diikuti tiga negara, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Adapun, total peserta sebanyak 70 orang.

Echa, sapaan akrabnya, didapuk sebagai juara 2 kategori busana tradisional fashion model.

Ia juga menjadi juara 6 kategori Model of Weaving Acrhipelago/batik dalam acara yang dihelat di Hall 6A Convention and Exhibition Centre, Singapura, 24 Januari 2019-27 Januari 2019 lalu.

Bukan hal mudah bagi Echa mengikuti kontes tersebut.

Fashion Model Singapore Expo 2019 menjadi pengalaman pertama bagi dia tampil di ajang fashion show internasional.

Echa pun mengakui sempat deg-degan mengikuti kontes tersebut.

Ia sempat tak percaya diri (pede) lihat pesaingnya yang berpostur tinggi, dan lebih profesional saat berjalan di catwalk.

Beruntung, dukungan terhadap siswi SD Lampung itu terus mengalir.

Sang ibu beserta pemilik Lola Modeling Agency Lampung, tak henti memberi dukungan untuk mendongkrak rasa percaya diri Echa.

Alhasil, Echa pun mampu membuang segala kekhawatirannya.

Sebaliknya, jelang gilirannya tampil, Echa makin yakin bisa menampilkan yang terbaik.

“Saat jalan di panggung sambil memperagakan beberapa gerakan tari Sembah, terus memperkenalkan diri menggunakan bahasa Inggris,” ujarnya menambahkan.

Ajang fashion show memang bukan hal bagi Echa.

Putri dari pasangan Ishak Juarsa dan Chi-Chi Japanese itu pernah mengikuti beberapa lomba fashion show, baik di Lampung maupun Jakarta.

Pengalaman dari satu catwalk ke catwalk membuatnya semakin berani untuk tampil di panggung internasional.

“Aku memang suka bergaya di atas panggung, berani tampil di hadapan banyak orang.”

“Diajari Mama cara bergayanya gimana,” ucapnya.

Ketertarikan Echa berlenggak-lenggok di catwalk bukanlah secara kebetulan.

Ia mulai tertarik saat melihat dokumentasi ibunya yang Putri Kartini DKI tahun 1996, mengikuti banyak ajang fashion show.

Selain itu, ia sering melihat fashion show baik secara langsung maupun televisi.

Perlahan namun pasti, Echa pun tertular bakat serupa.

“Awalnya kesusahan pas jalan karena pake sepatu dan sandal hak tinggi. Tapi diajari sama Mama.”

“Kalau gaya-gayanya (berjalan) nggak susah sih,” cerita siswi SD Tunas Mekar Indonesia tersebut.

Echa mengaku senang dan bangga bisa mendapatkan juara.

Ia berharap saat besar nanti bisa menjadi model profesional.

Seneng banget bisa menang, gede nanti pengen jadi artis modeling,” harapnya.

Ibunda Echa, Chi-Chi Japanese, turut senang atas prestasi putrinya ketiganya tersebut.

Ia tak menyangka Echa mampu menorehkan juara di lomba level internasional.

Terlebih melihat pesaingnya yang lebih profesional.

“Sebenarnya motivasi untuk ikut lomba internasional ini untuk mencari pengalaman bagi Echa. Makanya ikut ajang ini pakai biaya pribadi,” katanya.

Chi-Chi Japanese menceritakan, Echa memang sudah berani tampil di panggung sejak umur 2,5 tahun.

Ketika itu, Chi-Chi dan Echa bersama-sama mengikuti lomba fashion show Moms and Kids.

Sejak itu, Chi-Chi sering membawa Echa ke berbagai ajang fashion show.

“Sebelum ke Singapura, dapet juara umum juga pas ajang fashion show Pelangi Anak Indonesia (PAI) di Bandar Lampung,” terangnya.

Chi-Chi merasa tidak sulit mengajari anaknya berjalan di catwalk.

Sebab, Echa memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

Dia berharap, ke depannya, Echa mendapat dukungan untuk bisa mengharumkan nama Lampung di kancah internasional lainnya. (trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here