BERBAGI

Lampung Utara,(Ekstranews.com) —  Kasus kekerasan seksual menjadi momok di Lampung.

Terbaru, seorang siswi SMA di Kotabumi, Lampung Utara menjadi korban aksi bejat predator seks.

Apa penyebab fenomena ini?

Retno Riani, psikolog Lampung, mengatakan, banyak modus yang dilakukan pelaku untuk melancarkan aksi bejatnya.

Misalnya memberikan barang atau sesuatu yang disukai korban.

“Ada pula yang justru mengancam korbannya, sehingga tidak berdaya untuk melawan,” kata Retno, Minggu, 17 Maret 2019.

Idealnya, kata Retno, pemerintah bisa memberi edukasi, khususnya terkait perilaku tidak pantas dilakukan.

Sosialisasikan pula bahwa ancaman hukuman perbuatan pemerkosaan atau pencabulan sangat berat.

Sebab, pada umumnya pelaku memiliki ekonomi menengah ke bawah.

“Orangtua idealnya memiliki pemahaman tentang pola pengasuhan anak yang baik, sehingga mampu menjadi orangtua yang bisa diandalkan. Selanjutnya anak juga diberi pemahaman tentang tubuhnya, sehingga dia mampu menolak dan melapor apabila diperlakukan yang tidak pantas,” beber dia.

Digagahi 3 Kali

Rio Hadiwijaya (20), warga Komi, Kelurahan Kotabumi Ilir, Kotabumi, Lampung Utara, harsu berurusan dengan polisi.

Pria yang diketahui seorang residivis ini diduga menggagahi gadis 16 tahun (sebut saja Bunga), warga Kotabumi Selatan, Lampung Utara.

Kapolres Lampung Utara AKBP Budiman Sulaksono mengatakan, Rio ditangkap polisi, Kamis, 14 Maret 2019 sekitar pukul 20.00 WIB.

Penangkapan Rio dilakukan seusai polisi menerima laporan keluarga korban.

Korban mengaku diperkosa tersangka pada Minggu, 10 Maret 2019 lalu.

Dari pengakuan Bunga, perkenalan dengan Rio terjadi tiga hari sebelum kejadian melalui aplikasi pesan WhatsApp.

Kemudian keduanya sepakat bertemu.

Rio mengajak Bunga ke rumah temannya berinisial AG di Margodadi, Kelurahan Kotabumi Ilir, Kotabumi.

Di rumah itulah, Rio yang diketahui residivis kasus pencurian melakukan aksi bejatnya.

Siswa sebuah SMA di Lampung Utara itu digagahi tiga kali.

”Pelaku diduga memperkosa korban sebanyak tiga kali di rumah AG,” jelas Budiman, Minggu, 17 Maret 2019.

Budiman menerangkan, korban tak bisa berbuat banyak saat dipaksa Rio berhubungan badan.

Pasalnya, Rio selalu mengancam membunuh korban bila menolak ajakannya.

”Karena di bawah ancaman itulah, korban takut dan terpaksa menuruti ajakan pelaku,” terang  Budiman.

Pelaku akan dijerat pasal 81 dan 82 Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

“Barang bukti yang ikut diamankan berupa satu helai baju kemeja warna hitam putih, satu helai jilbab kembang-kembang warna putih, serta pakaian dalam korban. Polisi masih memburu AG karena ditengarai ikut terlibat,” tandas Budiman. (trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here