BERBAGI

Bandar Lampung,(Ekstranews.com) — Lantunan ayat suci Alquran terdengar jelas di balik dinginnya jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IA Bandar Lampung (Lapas Rajabasa).

Ayat suci Alquran ini dilantunkan puluhan napi atau Warga Binaan Lapas (WBL) Rajabasa di Masjid Darut Taubah.

Tak ada yang membedakan kegiatan ramadan yang ada di dalam masjid Lapas Rajabasa ini dengan masjid di luar Lapas Rajabasa.

Puluhan WBL ini merupakan santri pondok pesantren Darut Taubah yang sudah berdiri sejak 2017 di dalam Lapas Rajabasa.

Para santri berlomba-lomba membaca Alquran dengan harapan untuk menebus dosa.

Tak terkecuali Nurhadianto (37).

WBL yang baru menghuni Lapas Rajabasa dua bulan ini, menjadi salah santri ponpes dan aktif kegiatan pengajian di Masjid Darut Taubah.

“Seperti biasanya kami bangun sebelum subuh untuk mengaji, tapi pada bulan ramadan ini lebih banyak mengaji,” ujar pria yang tersandung perkara narkoba ini, Selasa 14 Mei 2019.

Selain memperbanyak bacaan Alquran, Nurhadi mengaku banyak ceramah dari pagi hingga malam.

“Ceramah itu pagi, kemudian setelah shalat zuhur, asar dan magrib, langung dilanjut tarawih,” bebernya.

Nurhadi mengaku sudah hampir menghabiskan bacaan Alquran.

“Tinggal beberapa juz khatam,” ujarnya.

Ia pun menargetkan bisa khatam Alquran minimal tiga kali, dengan harapan mendapat pahala dan menebus dosa atas kesalahannya.

“Ya lebih membenahi diri, atas perbuatan yang dilakukan lalu-lalu,” tandasnya.

Sementara itu, Ustaz Faizin Pembinaan Rohani Ponpes Darut Taubah mengatakan pada bulan ramadan ini pihaknya lebih menggiatkan kegiatan keagamaan.

“Setiap hari kami adakan pengajian, kemudian sebelum dan sesudah shalat ada tadarus Alquran pada malam harinya,” ujarnya.

“Selepas tarawih itu kataman jadi di LP Rajabasa ini setiap malam ada khataman Alquran, karena tadarusnya kami pilih yang lancar-lancar, satu juz per orang, jadi kalau ngambil 60 orang berati 2 kali khatam,” imbuhnya.

Faizin mengatakan kegiatan ini sudah berjalan rutin setiap tahun, dan sudah banyak WBL yang khatam Alquran.

“Bahkan ada yang jadi hafiz quran sampai 12 juz, karena ada ustaz yang membimbing bagaimana menghapal Alquran,” terangnya.

Faizin mengaku, perjuangan mengajak para WBL dalam kegiatan keagamaan cukup berat.

“Sebelum berdiri Ponpes, awalnya majelis taklim tahun 2007, merintis tak mudah, dulu kami nyari murid setiap kamar kami ajak, tapi sekarang santri datang sendiri,” tandasnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan LP Kelas 1 Bandar Lampung Ngadi mengatakan pada bulan ramadan ini pihaknya berupaya semaksimal mungkin diisi dengan kegiatan keagamaan.

“Seperti saat ini full dari pagi sampai terawih penuh kegiatan keagamaan termasuk menghadirkan ustad dari luar untuk mengaji dan trawih,” tuturnya.

Dengan adanya kegiatan ini, Ngadi berharap bisa dimanfaatkan oleh WBL.

“Kami harapkan WBL benar-benar manfaatkan waktu sehingga mereka benar-benar taubat,” tutupnya.(trb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here