BERBAGI

BANDAR LAMPUNG (ekstranews.com) — Aksi demontrasi seribu lebih pengemudi ojek online (ojol) Gojek, ternyata tidak mampu mempengaruhi sikap manajemen Gojek Indonesia.

Buktinya, Gojek Indonesia tetap bertahan dengan insentif yang diberlakukan sejak Senin (2-9-2019). Yaitu, penurunan isentif dari Rp160 ribu menjadi Rp80 ribu untuk mitra yang memperoleh 30 poin.

Padaal, penurunan insentif sebesar 50 persen itu yang memicu demonstrasi seribu lebih mitranya di Bandarlampung. Bahkan, sejumlah pengemudi ojol Gojek sempat mogok narik sejak ketentuan itu diberlakukan.

Namun, manajemen Gojek Indonesia tetap pada keputusannya, memotong 50 persen insentif mitranya. Alasannya, ada kenaikan tarif yang diberlakukan pemerintah.

Hal ini dinyatakan Head of Regional Corporate Affairs Gojek Teuku Parvinanda Handriawan kepada wartawan di Bandarlampung, Kamis (5-9-2019).

“Penyesuaian insentif diberikan atas dasar kenaikan tarif yang diberlakukan oleh Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 dan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 348 Tahun 2019 terkait tarif dasar dan tarif minimun ojek online. Termasuk didalamnya gojek yang harus mengikuti peraturan pemerintah ini. Kami mengikuti penyeragaman tarif ini sehingga kami meningkatkan besaran tarif per 2 September 2019 kemarin,” ujar Andri di Liep’s Cafe Bandarlampung.

Andri menambahkan, ketika tarif sudah ditingkatkan, maka perusahaan juga harus mencari cara untuk menjaga keberlangsungan ekosistem gojek yang saat ini sudah memiliki 21 layanan lainnya seperti go life, dan mitra UMKM. 

“Jadi ketika tarif udah ditingkatkan kami harus punya konsekuensi untuk bisa menyesuaikan insentif,” kata dia.

Andri menjelaskan, ada dua variabel yang harus dilihat berkaitan dengan pendapatan mitra driver. Pertama tarif, yakni pendapatan pokok mitra driver yang didapat dari order-order yang didapat setiap harinya. Dengan naiknya tarif maka pendapatan mitra gojek juga otomatis meningkat.

Kemudian insentif adalah bonus tambahan yang diberikan gojek kepada mitra driver sebagai penghargaan atas order yang telah mereka lakukan.

“Insentif bukan satu-satunya prioritas dalam menjaga keberlangsungan pendapatan mitra. Insentif ini kan bonus tambahan. Jadi yang kami ambil bukan sesuatu yang pokok, sehingga seharusnya gak terlalu berpengaruh karena pendapatan utama mereka kan dari tarif,” jelasnya.

Dia melanjutkan, penyesuaian insentif untuk mitra Gojek ini diiringi dengan berkembangnya aplikasi dan pelayanan Gojek dengan memberikan banyak promo dan cashback, agar mitra Gojek tetap diuntungkan dan konsumen pun tidak merasa rugi dengan menggunakan gojek.

“Kita tetap memfasilitasi dengan banyak promo mulai dari layanan Cashback, kan promo ini menguntungkan mitra dan juga konsumen. tarifnya kan masih tetap berjalan, dan pendapatan pokoknya masih tetap dapat,” terangnya.

Andri membantah jika pengurangan insentif ini belum pernah disampaikan kepada mitra driver sebelumnya. Selain Gojek memiliki agenda pertemuan dengan mitra gojek setiap dua pekan sekali. Beberapa lalu Gojek juga sudah pernah mengadakan pertemuan dengan mitra driver gojek untuk menyampaikan perihal kenaikan tarif dan penurunan insentif tersebut.

Selanjutnya Andri meyakini operasional Gojek akan kembali normal seiring berjalannya waktu. Menurut dia, pendapatan mitra driver tidak akan berkurang meskipun insentif diturunkan, pasalnya permintaan konsumen akan jasa layanan gojek semakin hari semakin meningkat. 

Sebelumnya, ribuan driver ojek online (ojol) Gojek melakukan aksi unjuk rasa menolak adanya pemotongan insentif atau bonus sebesar 50 persen.

Ketua Umum Gaspoll Miftahul Huda di depan kantor Gojek Indonesia (GI) Lampung Jalan Wolter Monginsidi mengatakan, driver menolak adanya potongan bonus hingga 50 persen. 

Menurut dia, driver meminta pihak Gojek mengembalikan insentif atau bonus 30 poin sebesar Rp 160 ribu.(htm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here