BERBAGI

PANARAGAN (ekstranews.com) — Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia (MKEK) Ikatan Dokter Indonesia Cabang Tulangbawang barat (Tubaba) berupaya netral dalam memutuskan kasus dugaan malpraktek oknum dokter rumah sakit Assyifa Tubaba.

Hal ini disampaikan ketua ikatan dokter Indonesia (IDI) cabang Tubaba, Dr. Edi Winarso, saat dikonfirmasi terkait jalannya sidang tertutup oleh Komite MKEK, Kamis (12/9) kemarin.

“Sidang itu baru tahap awal baru memanggil saksi pelapor terlapor dan pihak terkait , masih ada lagi agenda kita akan memanggil saksi ahli sedang dimintakan ke organisasi POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) provinsi Lampung, nanti POGI yang akan menunjuk saksi ahli nya,” kata kepala Puskesmas Mulyasari tersebut, Sabtu (14/9).

Dr. Edi menjelaskan, nantinya hasil dari sidang komite ini akan dilaporkan ke ketua IDI wilayah dan MKEK provinsi Lampung, dirinya meminta kepada pihak-pihak terkait agar memahami bahwa sidang MKEK hanya melakukan pemeriksaan terkait pelanggaran kode etik bukan pidana.

” Kalau pidananya itu ranahnya Kepolisian, itu saja agar keduanya tidak tercampur aduk dalam memahaminya,” ujarnya.

Sangsi terberat jika terbukti melakukan pelanggaran kode etik, MKEK akan merekomendasikan pencabutan izin praktek registrasi oknum dokter sebagai terlapor dan tidak mempengaruhi pada lembaga tempatnya bekerja.

” Karena kalau etik ini ranahnya lebih ke pribadi dokter arahnya kesana sangsinya, Kita sendiri berupaya netral, supaya obyektif makanya harus ada saksi ahli yang memang satu profesi dengan terlapor dan dari organisasi mereka yang akan diturunkan, namun hingga kini kita belum dapat nama siapa yang ditunjuk dari POGI,” kata Dr. Edi.

Sementara pada hari, Kamis (12/9) kemarin telah dilaksanakan sidang MKEK yang dihadiri oleh Dr. Wita Hestriyani, selaku ketua yang ditunjuk oleh pengurus besar IDI pusat, sidang di pimpin oleh Dr. Wiwit Anggara, dan anggota Dr. Tasya.(Ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here