BERBAGI

BANDAR LAMPUNG (ekstranews.com) — Pihak PT Lautan Indonesia Persada (LIP) menegaskan bahwa perusahaan tersebut tidak akan mengeruk pasir dekat Gunung Anak Krakatau (GAK).

“Kami tidak pernah bekerja atau menambang pasir laut di kaki Gunung Anak Krakatau karena lokasi kami jaraknya 14-20 mil dari Gunung Anak Krakatau,” ujar Wakil Ketua PT LIP Cabang Lampung Eko Sutedi.

Hal ditegaskan Eko Sutedi menanggapi tudingan bahwa perusahaan itu akan mengeruk pasir di sekitar GAK. Sebelumnya, warga menuding PT LIP hendak menambang pasir sekitar 500 meter dari GAK.

Menurut Sutedi, kapal mereka memang pernah sandar dekat Pulau Sebesi. Tetapi, saat itu hanya untuk keperluan mengisi air bersih yang akan digunakan saat mereka beroperasi di Selat Sunda. Karena banyak dipermasalahkan warga, akhirnya mereka tidak jadi mengoperasikan kapal keruk dan kapal tongkang yang sudah disiapkan.

Kini, menurut Sutedi, kapal tongkang sudah balik arah ke Cirebon sedangkan kapal keruk masih sandar dekat Dermaga V Pelabuhan Bakauheni.

Sutedi menjelaskan mereka punya dasar hukum yang jelas untuk melakukan penambangan. Di antaranya, izin lingkungan Nomor G/130/IL.05/HK/2015 yang dikeluarkan oleh Gubernur Lampung, izin usaha Pertambangan Operasi Produksi Pasir Laut Nomor 540/3710/KEP/IL07/2015 beserta koordinat dan gambar lokasinya, Sertifikat Clear and Clean No. 1223/MIN/46/2016. Selain itu, juga Surat Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut (SIKK) Nomor A.63/AL324/DJPL tanggal 21 Januari 2019 tentang persetujuan komitmen untuk melaksanakan pekerjaan/pengerukan pertambangan air laut.

“Jadi, kami PT LIP akan bekerja menambang pasir laut di titik koordinat yang telah ditentukan oleh Pemprov Lampung yaitu di Selat Sunda, bukan dekat Gunung Anak Krakatau. Surat izin kami itu berlaku dari 2015 hingga 2020,” ujarnya.

Pasir yang hendak dikeruk, ujar Sutedi, rencananya untuk memenuhi pesanan untuk keperluan penimbunan.

Meski belum beroperasi, ujarnya, PT LIP juga sudah mencoba membantu fasilitas sosial dengan merencanakan perbaikan Dermaga Canti yang biasa digunakan untuk menyeberang ke Pulau Sebesi. “Sekitar 10 kubik telah kami siapkan di sekitar Pelabuhan Canti, untuk perbaikan dermaga,” ujarnya.

Eko Sutedi pun mempertanyakan kepastian hukum dalam berusaha. “Semua persyaratan sudah kami penuhi agar kami bisa melakukan penambangan. Tetapi, setelah izin keluar mengapa dipertanyakan,” ujar Tedi. Ia pun mengaku heran mengapa kegiatan mereka dikaitkan dengan Gunung Anak Krakatau padahal lokasinya sangat berjauhan. “Jadi, kalau dibilang hanya ratusan meter dari gunung, itu tidak betul,” tegas Tedi.(lpc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here