BERBAGI

Jumlah pekerja yang terimbas virus corona di PT Domus Jaya sebanyak lima puluh satu orang. Hingga saat ini mereka masih menanyakan kejelasan statusnya. Sebab, perusahaan tak kunjung menepati janjinya untuk melakukan kerja sistem rolling (bergantian).

LAMPUNG SELATAN–Winardi harus dirumahkan dan sementara harus kehilangan pekerjaannya dari pabrik
yang bergerak dibidang Refineri dan Fraksinasi minyak sawit di Desa Pardasuka, Kecamatan Katibung, Lampung Selatan.

Ia telah mendedikasikan diri bekerja disana selama belasan tahun, dan sekarang ia dan rekan-rekannya sedang memperjuangkan agar perusahaan tempatnya bekerja menepati janji untuk melakukan kerja sistem rolling terhadap karyawan yang dirumahkan.

Diketahui, sebanyak 60 orang karyawan telah dirumahkan PT Domus Jaya sejak Mei lalu, dengan rincian pada Mei 29 orang dan Juni 31 orang. Sebagian besar merupakan karyawan senior yang telah bekerja puluhan tahun pada perusahaan.

Ketika diberitahu bahwa ia salah satu karyawan yang harus dirumahkan, pria yang akrab disapa Wiwin ini sempat merasa “galau”

“Galau, pasti iya, soalnya kan saya banyak kebutuhan, membayar cicilan kredit di bank, ada angsuran sepeda motor, biaya kebutuhan anak, dan lain-lain,” katanya.

Ia mengatakan tengah mencari pekerjaan sampingan untuk mengisi kekosongan harinya. namun hal tersebut sulit dilakukan sebab, ada perjanjian yang mengikat tidak boleh bekerja di tempat lain selama dirumahkan.

“Paling-paling ngojek, itu pun kalau ada orderan, soalnya sepi mas,” tukasnya.

“Jadi untuk sementara ini saya bergabung bersama karyawan yang lain, memberi support teman-teman yang lain biar semangat terus, untuk memperjuangkan hak-hak karyawan, agar perusahaan menepati janjinya” timpalnya.

Wiwin saat ini bersama istrinya hanya sibuk merawat anak-anak, dan membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah. Keluarganya hanya mengandalkan uang tabungannya, namun ia memprediksi itu akan habis dalam satu bulan ke depan.

“Memang kami masih menerima lima puluh persen dari gaji pokok tanpa tunjangan, tapi uang segitu cukup apa, terpaksa makan tabungan. Itu pun sepertinya satu bulan ini saja habis. Soalnya sudah enam bulan ini tabungan terpakai untuk bayar kontrakan, sepeda motor, lampu, dan kebutuhan lain,” lirihnya.

“Istrinya saya sih menerima keadaan saya saat ini. Sangat sedih sekali, kita sebagai orang tua tidak punya baju atau nggak makan sih nggak masalah, cuma kalau lihat anak istri rasanya mau nangis,” ujar Wiwin menutup obrolan.

Heriyanto rekan senasib Wiwin mengaku meski telah belasan tahun bekerja, tak urung dirinya terimbas kebijakan perusahaan yang harus merumahkan karyawan.

“Saya bekerja sejak pertama kali perusahaan berjalan, padahal banyak karyawan yang baru bekerja satu dua tahun, tapi nasibnya lebih beruntung dan tetap bekerja seperti biasa, entah apa yang salah dari saya,” keluhnya.

Ia mengatakan saat ini ia pusing memikirkan bagaimana memberi uang saku anak-anaknya dan membayar pengeluaran setiap bulan seperti cicilan sepeda motor, listrik dan cicilan lainya. Sementara ia mengaku tidak memiliki tabungan.

Menurut dia, sejauh ini belum terlihat ada kemungkinan perusahaan tempatnya bekerja mepekerjakan kembali para pekerjanya.

“Kemarin waktu musyawarah dijanjikan setelah lebaran dipekerjakan kembali, tapi sampai sekarang nggak jelas status kami,” kata dia.

Ia mengaku jenuh hanya berdiam diri di rumah, namun ia tidak memiliki pilihan lain karena terikat perjanjian ditambah sulitnya mencari pekerjaan di tempat lain.

“Masih menunggu saja, meski status kami nggak jelas,” urainya.

Heri mengaku dia bersama rekan-rekanya lebih memilih langsung di PHK ketimbang statusnya digantung tanpa kejelasan.

“Kalau di PHK kan jelas, kita bisa cari pekerjaan lain,” imbuhnya lagi.

Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lampung Selatan sendiri telah mengagendakan Hearing tripartide untuk menyelesaikan masalah itu. Diharapkan lewat campur tangan dewan akan didapatkan solusi terbaik bagi semua pihak.(ibr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here